Senin, 13 Desember 2010

P A P





Pap,


Pap,…
Masih kami ingat ketika subuh datang menjelang,
Membangunkan kami dengan penuh sabar,
Membelai hati kami penuh kasih,
Menatap bathin kami penuh harap,
Mendekap tubuh kecil kami dengan damai,
Memandang tingkah kami dengan gemas,
Mengusap kening kami dengan penuh kasih sayang,
waktu subuh datang menjelang,




Pap,…
Masih kami ingat ketika subuh datang menjelang,
Membangunkan kami dengan penuh sabar,
Mengambil kaleng kerupuk sebagai tetabuhan,
Memasuki semua kamar peraduan,
Melantunkan lagu-lagu riang,
Dengan senyuman penuh menawan,
Memaksa kami bertarung melawan,
kantuk dan lari dari berisik bunyi genderang,
dalam senyum menggoda penuh canda,
Waktu subuh datang menjelang.




 Pap,….
Masih kami ingat waktu subuh datang menjelang,
Membangunkan kami dengan penuh sabar,
Lalu menyiapkan peta dan perbekalan,
Menyalakan mesin mobil tanpa tau arah tujuan,
Singgah disetiap surau yang terlewatkan,
Menatap keagungan Illahi dalam setiap perjalanan.
Waktu subuh datang menjelang,

     


Pap,…
Masih kami ingat waktu subuh datang menjelang,
Membangunkan kami dengan penuh sabar,
Menyiapkan kail dan pancingan plus perbekalan,
Siap menyambut hamparan kebun dan pematang,
Menelusuri setiap sungai dan empang,
Mengamati kail dengan sabar dan tenang,
Sambil mengawasi kami bermain dengan penuh girang,
dan berharap liburan mendatang pasti kan terulang.
            Waktu subuh datang menjelang,








Pap,…
Masih kami ingat waktu subuh datang menjelang,
Membangunkan kami dengan penuh sabar,
Dalam balutan seragam kami sigap berjalan,
Menatap  kami penuh bangga sambil bertutur dalam,
Tujuan ilmu sama sekali bukan hanya tentang kenikmatan intelektual,
Tujuan ilmu bukan pula mencari puncak pencapaian,
Tapi untuk memperbaiki kwalitas hidup, amal,
dan menjernihkan pandangan serta arah kehidupan
waktu subuh datang menjelang,






Pap,…
Masih kami ingat waktu subuh datang menjelang,
Membangunkan kami dengan penuh sabar,
Dalam balutan seragam kami sigap berjalan,
Menatap kami penuh bangga sambil bertutur dalam,
Keberhasilan bukan hanya ada pada alam rencana dan angan-angan
Keberhasilan hanya ada pada alam tindakan,
maka lakukan sesuatu pada arah kehidupan mu
waktu subuh datang menjelang,...


Pap,…
Masih kami ingat ketika fajar siap melesat,
Menyongsong hari baru dengan sigap,
Menyampaikan amanat dalam senyum penuh harap,
Seolah berkata lewat sinar mata menatap,
Bukan yang lebih kaya yang akan bertahan,
Bukan yang paling canggih yang bertahan paling lama,
tapi yang bisa menyesuaikan perubahan ,
Yang dapat berdiri terdepan maka lakukan sesuatu ,
dalam arah hidupmu,Waktu fajar siap melesat.





Pap,…
Masih kami ingat waktu fajar kian tenggelam,
senyum dikulum memandang kami mengaji,
Ketika mata kami berusaha tetap tegak malawan kantuk,
Terbata-bata mencoba taj’wid dalam setiap huruf,
bahkan kadang tertidur lelap menghiraukan ustad mendongeng,
Yang slalu datang bentrok dengan jam tidur kami,
Tetap dengan senyum dikulum kau memandang kami mengaji,
Waktu fajar kian tenggelam,..




Pap,…
Masih kami ingat waktu fajar kian tenggelam,
Suasana hangat menunggu malam,
gelak tawa dimeja makan,
Mendongeng cerita siang tadi yang baru usai,
Menertawakan hidup dengan penuh bijak,
Merangkum hikmah dalam setiap langkah,
Menjadikan amanah hidup dalam ibadah,
Menciptakan ringan dalam setiap beban,
Mewujudkan kewajiban dalam penuh iklas,
Menatap hari esok dengan penuh harap,
Waktu fajar kian tenggelam,




Pap,…
Masih kami ingat waktu fajar kian tenggelam,
Suasana hangat menunggu malam,
Gelak tawa diserambi depan,
Mendongeng cerita siang tadi yang baru usai,
Berpegangan tangan dan mendekap erat,
Balutan sepoy angin malam begitu damai,
Pada setiap gigitan jagung bakar,
Dalam suasana hangat penuh canda,
Waktu fajar kian tenggelam.




Pap,…
Masih kami ingat ketika fajar siap melesat,
Menyongsong hari baru dengan sigap,
Menyampaikan amanat dalam senyum penuh harap,
Seolah berkata lewat sinar mata menatap,
Selagi muda,“Jadilah petarung-petarung impianmu
Jauhi penyesalan yang tak perlu,
Berdamailah Dengan masa lalu,
Berbahagialah Dengan masa kini,
Penuh harap Dengan masa mendatang,
Maka lakukan sesuatu,
Karna Hidup sekali untuk berarti”.





 Pap,…
Masih kami ingat ketika fajar siap melesat,
Menyongsong hari baru dengan sigap,
Menyampaikan amanat dalam senyum penuh harap,
Seolah berkata lewat sinar mata menatap,
Cinta menjadi ruh bagi iman, jiwa bagi amal,
Tanpanya semua bagai jasad tanpa nyawa,
Yang sangagup mengantarkan kesuatu tempat
Yang hanya dicapai dengan perjuangan berat,
Hingga membawanya kepuncak,
Maka lakukan sesuatu,
                                                                              Karna Hidup sekali untuk berarti”.











Pap,…
Masih kami ingat ketika fajar siap melesat,
Menyongsong hari baru dengan sigap,
Menyampaikan amanat dalam senyum penuh harap,
Seolah berkata lewat sinar mata menatap,
Pandailah bersyukur pada Alllah setiap saat,
Maka kau akan bersyukur atas duniamu dan akhirat kelak,
Dan bila hatimu tak dapatkan kelezatan
Yang didapat dari amal perbuatan,
maka curigailah harimu karna Allah Maha pemberi Balasan
Maka lakukan sesuatu karena,
 “Hidup sekali untuk berarti hingga akhir  nanti
Dan nikmati kelezatan-NYA”.



Pap,…
Masih kami ingat ketika fajar siap melesat,
Menyongsong hari baru dengan sigap,
Menyampaikan amanat dalam senyum penuh harap,
Seolah berkata lewat sinar mata menatap,
Mahabbatullah  adalah nikmat dan anugrah terhebat,
Terasa hanya pada orang yang mengenal sifat-NYA
Maka jangan pernah tunda persiapan kematian,
Karna umur kita terlalu singkat,
Setiap tarikan nafas adalah udara terakhir yang dihirup,
Lalu kematian menjemput maka lakukan sesuatu,
 Karna Hidup sekali untuk berarti”.





Pap,…
Masih kami ingat dalam sakitmu yang panjang,
Ketika separuh tubuhmu lumpuh tak bergerak,
Langkah kaki yang kian berat,
Kelopak mata yang makin kasat,
Lengan lunglai menggapai hasrat,
Menyelamatkan seulas senyum yang tersirat,
Karena cinta menjadi ruh bagi iman dan amal, jiwa bagi spiritual,
Tanpanya semua bagai jasad tanpa nyawa.
Cinta sangagup mengantarkan siapapun kesuatu tempat
Yang dapat dicapai dengan perjuangan berat dan membawanya kepuncak
Maka matamu tetap berbinar memandang dunia penuh semangat.


Pap,..
Masih kami ingat dalam sakitmu yang panjang,
Ketika separuh tubuhmu lumpuh tak bergerak,
Memilah butiran candu obat yang berserak meneggak air putih penuh sesak,
Menatap langit-langit kamar rumah sakit bagai bara api panas menghimpit,
Justru matamu yang meneduhkan hati kami,
Yang slalu menyemangati kami untuk trus berharap.
………………………….
……………………………
………………………………
………………………………….





Pap,…
Masih kami ingat dalam sakitmu yang panjang,
Menggenggam tasbih dan berkata lirih,
“hiduplah dengan penuh arti, karna hidup hanya sekali, dan
Matilah dengan  penuh arti, karna mati adalah awal hidupmu yang abadi,
Maka lakukan persiapan karna umur terlalu singkat,








Pap,…
Masih kami ingat dalam sakitmu yang panjang,
Menggenggam tasbih dan berkata lirih,
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati,
Maka terujilah dalam keburukan dan kebaikan sebagai cobaan,
Dan hanya kepada-Nyalah kita kembali”,

Pap,…
Masih kami ingat dalam sakitmu yang panjang,
Menggenggam tasbih dan berkata lirih,
Tak ada tempat istirahat bagi seorang abid,
Kecuali dibawah naungan pohon cinta Allah,
Tak ada ketenangan bagi seorang pencinta,
Kecuali pada hari penambahan,
Sibuklah dengan Allah dalam kehidupan,
Niscaya Dia akan mencukupimu setelah kematian”,


Pap,…
Masih kami ingat dalam sakitmu yang panjang,
Menggenggam tasbih dan berkata lirih,
Jangan pernah takut dengan kematian,
karna hidup dan mati hanya jarak,
Jarak kita dalam keteguhan iman,
kala izro’il menjemput kelak”,


Pap,…
Masih kami ingat ketika dengan cemas namun iklas,
Kami menunggu disaat sakitmu yang panjang dan mengantarmu pergi,
Menghadap Sang Khalik yang kasih dengan iman yang kental,
Dengan merunduk kami mengucap terus,..
Allaahu Akbar,…Astagfirullaahal’azim,…Laa illaha illallahu,..
Muhammadarrasulullaah,…”
Dan dengan pasrah dalam iman islammu, kau menghadap Khalik mu
Inna Illaihi wa inna illaihi raaji’iun
Ya Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,
Ampunilah dosa dan segala kekhilafan Almarhum,
Apabila dia menghadap–Mu dengan membawa kekurangan,
Mohon kiranya Engkau Anugrahi Ampunan.
Dan apabila dia kembali menghadap-Mu dengan membawa amal soleh,
Mohon kiranya Engkau terima sebagai amal ibadah


Pap,…
Masih kami ingat ketika keranda diangkat,
Pada perbatasan antara ada dan tiada,
Dengan isak yang mengguncang kami berbisik perlahan,



Pergilah dengan tenang Pap,…”



Setiap saat kukirim do’a agar lebih membahagiakanmu,


Kini tak hadir lagi Papap yang bersahabat,

Teman berbincang penghapus gundah,
Tempat mengadu berbagi duka,

Tak hadir lagi canda ceria dalam gelakmu,




Hanya sunyi dalam mengenangmu





Pap,…
Pagi,…  Siang,…  malam,…  telah kita habiskan,
Disini,…  dipertemuan program jadwal dan waktu,
Dan sebelum sadar dari bius kehidupan,
Lonceng telah memanggil mu,
dari reruntuhan kemegahan cahaya senja,
Ketika fajar siap melesat,





Pap,...
Kau,…  Aku,…  kita,…  lalu melangkah pulang,
Melewati titian panjang arah sejarah,
Buat belajar setia pada janji.
Sebelum sempat berbenah,
Sebelum sempat mengucap kata berpisah,
Segalanya telah mengkristal dalam hening yang sakral,
Dan agaknya waktu tak pernah cukup,
Buat menyembuhkan luka rindu,
Dari setiap tandan suka cita kehidupanku,




Pap,…
Pagi,…  Siang,…  malam,…  telah kita habiskan,
Disini,…  dipertemuan program jadwal dan waktu,
Mei kemarin masih terasa menyegarkan,
Masihkah ingin waktu berjalan kebelakang,
Dan membiarkanku berdiri usang, terbenam dirawa penantian,



Pap,...
Kukenang pertemuan-pertemuan kita, pada hujan senja temaram,
Jika Mei pagi menjelang, tampak hujan menggurat dedaunan,
Sepotong mimpi aku tinggalkan, sebab,....  Hidup adalah kenyataan,
Bersandar pada matahari, bernafas dalam keyakinan,
Akankah bumi terus KAU putar,.. Hingga Mei yang akan datang ?.....


Pap,….
Tak ada waktu sekekal masa lalu,
Karena hari esok tak mampu kujangkau,
Pelita tersenyum mendengar rahasia angin,
Hingga bayangmu terus bergerak-gerak,
Dan angin tetap mengoyangkanya,
Hingga ku tak dapat menangkap wajahmu,
Yang terus bergerak dilamunan, maka aku diam
masih berselisih dengan bayang-bayang,


Pap,….
Tak ada waktu sekekal masa lalu,
Karena hari esok tak mampu kujangkau,
Yang ada dikepala hanya ada kenangan,
Berenang-renang diingatan,


Pap,….
Sungguh indah saat-saat itu,
dibawah keteduhan Ayat-ayat Illahi,
kami iklaskan kepergianmu ,
yang tak’kan pernah kembali,
Namun sungguh nyata hidup dalam hati kami,
Yang mencintaimu.

Selamat Jalan Pap,….
Yakinkan Kita kan bertemu dan berpelukan kembali,
Dialam yang abadi

 nanti. . .














Tidak ada komentar:

Posting Komentar