Senin, 13 Desember 2010

KONDISI TERAKHIR PAP

Ketika masih bekerja di PT. Budiarto Cimahi Leuwi Gajah Almarhum sempat mengalami strock yang pertama dengan tekanan darah yang sangat rendah dan dibawa kerumah sakit terdekat (Yudistira), tetapi semangatnya untuk sembuh sangat besar, selain sangat menyukai memancing juga menyukai ikan hias, selain membuat aquarium didalam rumah juga membuat kolam ikan dibelakang rumah yang dipadu dengan taman kecil, baik di rumah jl Bagusrangin 20 juga rumah jl. Bata merah 5, hingga beberapa tahun kemudian  memutuskan untuk pensiun, tetapi setiap akhir pekan selalu menyempatkan untuk jalan bersama seluruh keluarga keJakarta, Bogor, tanggerang, Garut, Sumedang, Subang, Purwakarta, Cirebon, Kuningan, dan banyak tempat lainya hanya untuk melihat indahnya petak sawah, kebun yang menghijau, gunung yang menjulang dan berbagai macam tanaman. Sampai pada akhirnya sempat mengalami Strock yang kedua dan harus dilarikan kerumah sakit Hasan sadikin bandung, juga tak lama berselang harus mengalami oprasi pancreas dan pengangkatan usus buntu. Dalam waktu cepat kondisinya pulih dan stabil karna semangatnya yang besar dan tidak menghalangi untuk pergi berkunjung ke saudari ipar yang berada di medan dan memilih melewati jalan darat untuk melihat indahnya alam sekitar dalam perjalananya



Pada sekitar tahun 1998 Almarhum terkena strock yang ketiga walaupun sebelumnya terlihat sangat sehat dan pada strock yang ketiga ini tekanan darah berbalik menjadi sangat tinggi dari yang sebelumnya justru rendah, sehingga sudah mencapai penyempitan pembuluh darah dikepalanya bahkan dokter menyatakan sudah lumpuh setengah badan yang ketika itu dibawa kerumah sakit Kebunjati bandung. Tetapi semangatnya masih sangatlah besar untuk sembuh. Dengan penuh sabar dari minggu pertama  sampai bulan berikutnya  selalu melakukan terapi baik ditempat tidur, diatas kursi roda bahkan dengan tongkat penyanggah hanya dengan hitungan minggu kondisi Almarhum sudah seperti sedia kala, Dengan rasa Syukur atas kemurahan Allah dan semangat yang ditunjukkan Almarhum seluruh keluarga sepakat untuk mengontrak dua petak sawah, 3 kolam ikan dan rumah kecil didesa-Ciparai untuk beristirahat pada masa pemulihannya dan Almarhum sangat menikmatinya. Memancing, membajak sawah, dan lainya sambil mengenang masa kecil dahulu bahkan sempat 2 kali panen walau hasilnya tidak seberapa tapi sangat membahagiakan, bahkan sempat dikunjungi oleh beberapa kerabat lama baik teman kantornya dan seluruh keluarga untuk memancing bersama, bakar ikan bersama dan menikmati indahnya hamparan sawah dan melepas lelah, hingga tanpa terasa seluruh tubuhnya dapat digerakkan kembali dan kesehatanya dapat berangsur baik dan stabil.


Pada awal tahun 1999 dikabarkan kondisi Almarhummah Ibunda Sumiatun Wiryosudiro, ibu kandung dari istri tercinta jatuh sakit dan seluruh keluarga memutuskan untuk pindah kerumah lama yang berada diJl Bagusrangin agar dapat lebih intense dalam merawatnya. Dan pada tanggal 22 Januari 1999 Mbah Putri meninggal dunia pada usia 94tahun karena sakit yang sebelumnya sempat dirawat beberapa hari di RS St.Boromius Bandung, dan pada bulan Mei tahun 2000 sepulang dari olah raga pagi Almarhum mendapat serangan strock yang ke-empat dan langsung dibawa ke Rumah Sakit St Boromius. Diruang ICCU Almarhum sempat koma selama sepuluh hari dan keadaanya berangsur membaik menurut 3 dokter spesialist yang menanganinya Tetapi Allah berkehendak lain, .  


Jumat, 12 Mei 2000, Almarhum berpulang kehadirat Illahi, kami ketiga putra-putrinya  yang kala itu sudah mengetahui keadaan ayahanda kami, berusaha mengantarkan ibunda tercinta untuk melihat Almarhum tanpa memberitahukan keadaanya karna kondisi bunda tercinta dalam keadaan sakit jantung koroner yang belum stabil yang sudah diderita sejak tahun 1980an, setelah memasuki ruang Yosep ICCU lantai 4 RS St.Boromius kami akhirnya melihat Almarhum tersungging senyum yang membisu, bunda masih sempat mengajaknya berbicara dalam komanya hingga tersadar ketika melihat seluruh alat disekeliling tubuhnya tidak lagi berfungsi dan mengeluarkan bunyi seperti 10 hari terakhir ini, kami bertiga berusaha mendekap erat tubuh bunda setengah baya yang kala itu sempat membisu sejenak dan memanggil perlahan sambil mengerutkan dahi “pap” tiga kali sampai akhirnya tersadar dan mengucap “InnaLLiLahi Wainna Illahi Rojiun” dengan desahan lembut dan kami berusaha agar jantung bunda tetap stabil hingga kami semua menerima dengan iklas. Keesokan harinya setelah mengabari salah satu putranya yang berada dijakarta maka ke empat putra-putrinya  berkumpul dan mengurus seluruh keperluan yang dirasa perlu, seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak hadir juga kerabat tetangga bahkan sahabat lama ikut mengantar Almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya. Almarhum meninggalkan seorang istri tercinta, 4 orang anak dan 6 orang cucu. Almarhum dimakamkan dipemakaman Cibarunai Sarijadi berdekatan dengan Ayah kandung tercinta (Bapak Suleiman) dan adik perempuannya (Merriam Suleiman). Juga tantenya yang telah mendahuluinya.
 

Banyak kenangan beliau yang tidak mungkin kami lupakan walau kami tahu harus melepas kepergianya dengan rasa ikhlas, banyak petuah beliau yang selalu kami ingat dan tak pernah kami lupakan, banyak tauladan beliau yang selalu kami ikuti dan tak pernah kami tinggalkan, Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah Trimakasih telah KAU”pinjamkan kepada kami seorang Suami, Ayah dan kakek yang begitu baik dan hangat. Jika sekarang Kau ambil milik-MU lagi maka kami ikhlas  dan penuh trimakasih karena sekarang kami punya perasaan yang begitu indah yang kami rasakan karena kami selalu merasa dekat dan karena hidup dan mati hanya jarak, jarak kita dalam keteguhan iman kala Izro’il menjemput kelak,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar