Walaupun kedua orang tua kami bekerja namun kami tidak pernah kehilangan rasa kasih sayang mereka, karena mereka selalu hadir pada setiap saat kami butuhkan hingga kami dewasa. Setiap moment dari kehidupan kami penuh makna. Pada setiap akhir pekan seluruh keluarga selalu menyempatkan untuk refreshing ketempat keramaian, mengunjungi sanak saudara atau ketempat baru yang belum pernah kami kunjungi.
Diantaranya taman alun-alun Bandung yang sekitar pertengahan tahun 1970’an masih sangat ramai dikunjungi wisatawan karena tempatnya yang berdekatan dengan gedung Asia Afrika, pusat perbelanjaan, Mesjid Raya, dan perkantoran sehingga tak heran menjadi jantung kehidupan dari kota Bandung kala itu.
Selain itu kami putra putrinya selalu diajak berkeliling untuk melihat keindahan alam selain ketempat keramaian, bahkan dalam perjalanannya selalu menyempatkan untuk berhenti sejenak dibawah hutan pinus, ditepi pantai, dipinggir kawah gunung berapi, dipinggir sawah orang, menyusuri sungai untuk memancing, atau bahkan diterjal gunung bebatuan. Hanya untuk sekedar beristirahat sambil melihat dan merasakan keindahan dan kebesaran Tuhan. Singgah disetiap surau dan menyapa masyarakat sekitar.
Selain Almarhum sangat menyukai keindahan alam juga mengagumi berbagai macam tanaman, baik tanaman hias, tanaman obat ataupun tanaman yang dapat menghasilkan. Selain membuat taman dirumah Bagusrangin 20 bagian depan, dirumah Bata Merah no5 bagian depan dan kolam taman dibagian belakang rumah, dilahan awiligarpun dijadikan kebun serba guna, bahkan di rumah Perumahan Putrako Cileunyi blok T18 yang sepeninggalnya Almarhum tetap ditanami berbagai tanaman hias maupun tanaman yang berguna bagi kehidupan sehari-harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar